Kamis, 28 Januari 2021

POTRET DI PELUPUK MATA

 SELINTAS

    Hidup ibarat panggung sandiwara. Lakon tanpa henti semasih roh dan raga bersatu. Demikian ungkapan bijak yang sering saya dengar. Ketika masih anak - anak, remaja,  bahkan setelah usia menginjak dewasa pun saya belum terlalu memahami makna kalimat tersebut.

    Seiring perjalanan waktu, pengalaman hidup tentu juga bertambah. Selain itu usia yang terus bergerak mundur akan mengarahkan jiwa untuk lebih banyak menekur. Memang naturalnya seperti itu. Akan tetapi manusia adalah makhluk unik yang dibekali dengan bakat atau bawaan yang berbeda  satu sama lainnya.

    Keadaan inilah yang biasanya membuat setiap orang memiliki grafik perkembangan kepribadian atau pemahaman yang berbeda. Yang tidak kalah menentukan juga adalah terbukanya pemahaman batin  atau pikiran oleh sang pemilik hati , Allah swt Tuhan sekalian alam.

    Menurut kaum bijak bahwa orang cerdas itu adalah mereka yang sadar bahwa hidup itu hanya sementara. Setelah kehidupan dunia fana ini, akan ada kehidupan abadi di alam lain. Semua yang bernyawa akan mati. Hanya Tuhanmu lah yang  memiliki kebesaran dan kemuliaan yang akan kekal selamanya. Demikian dikatakan dalam kitab suci kaum Muslim surah Ar-rahman..

    Kehidupan alam dunia yang sifatnya sementara ini semestinya dijadikan ajang untuk menebar manfaat bagi sesama dan alam sekitar.  Karena itulah tujuan manusia diciptakan. Semua yang dilakukan akan diminta pertanggungjawaban.nantinya. Ibarat praktek lapangan seorang mahasiswa, pelaporan akhir harus dibuat dan dipertanggungjawabkan.

    Hidup harus diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Di usia yang tidak ABG lagi refleksi diri seharusnya lebih gencar. Pengalaman hidup bukankah sebaiknya dibagi kepada orang lain? Yang bermanfaat kiranya menjadi inspirasi, sedangkan yang kurang manfaat dijadikan contoh untuk tidak ditiru, seperti  kata pepatah  "pengalaman adalah guru yang terbaik".

    Berawal dari renungan itu timbulah sebuah kesadaran untuk berbagi. Meninggalkan jejak dengan cara bertutur bak dongeng sebelum tidur mungkin bukan zamannya lagi. Menorehkan tinta dari sebuah ujung pena itulah pilihan. Menebarkan goresan tinta tentunya lebih baik. Meniupkannya secara digital adalah kehendak zaman.

    Mulailah bertutur. Mulailah berkisah secara tertulis. Memainkan ujung pena atau memainkan ujung jemari pada tuts gawai bukanlah sesuatu yang sia - sia. Paparkan segala rasa dan asa di sana. Jangan takut! waktu akan merangkainya dalam benang  - benang kalimat penuh inspirasi tanpa tepi. seperti kata om Jay "menulis dan menulislah dan biarkan tulisan itu menemui takdirnya sendiri". Aamiin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar