Masyarakat Palu tanah Kaili pada umumnya masih kental memelihara tradisi leluhur yang telah diwariskan secara turun temurun.
Kelompok ini masih taat menjalankan berbagai ritual penghormatan terhadap para orang tua yang telah mendahului.
Segala petuah dan hal yang mereka lakukan semasa hidup dilanjutkan oleh para keturunannya.
Hal yang paling menonjol adalah pengobatan tradisional dan pembacaan doa secara teratur untuk arwah mereka yang telah mendahului.
Selain itu 'baca doa' juga dilakukan bila seorang anggota keluarga bermimpi kedatangan arwah orang yang telah meninggal. Itu pertanda almarhaum/almarhumah minta dikirimkan doa.
Segera anggota keluarga dan keturunannya membeli pakaian misalnya sarung baju koko/baju gamis untuk lelaki dan busana wanita pada umumnya untuk perempuan. Pakaian ini akan disedekahkan pada orang lain dengan niat pahalanya untuk yang telah meninggal.
Sebelum acara baca doa mereka akan berziarah ke makam para pendahulu untuk mengirimkan doa . Setelah itu baru melakukan pembacaan doa di rumah disertai dengan makan bersama sama dalam satu keluarga
Pada umumnya keluarga yang hadir merupakan saudara atau sanak famili sendiri yang tinggal dalam satu patakan tanah yang luas . Kekompakan inilah yang turut membantu lestarinya budaya leluhur yang mereka pegang.
Jika ada pekerjaan, maka mereka akan bergotong royong saling membantu satu sama lainnya.
Misalnya kerja keroyokan dalam mendirikan tiang raja sebuah rumah. Kegiatan masak memasak makanan khas Kaili tentu tidak akan pernah luput.
Orang Kaili memang kuat memegang semboyan one for all terutama untuk kegiatan jamuan bersama. Berbagi berkah sangat diutamakan dan rezeki tidak akan pernah habis. Siapa saja yang datang sesungguhnya memakan rezekinya sendiri. Tuan rumah hanya sebagai perantara datangnya rezeki itu sendiri.
Penyelenggara hajatan atau tuan rumahlah yang menanggung semua biaya yang dibutuhkan. Saudara yang lain menyumbang tenaga. Setelah itu makan bersama dalam situasi ramai hampir kayak pasar.
Rata rata orang Kaili memiliki volume suara yang keras (pengaruh geografis gunung dan laut) sehingga kalau sudah berkumpul pasti ramai dan seru. Disinilah letak keakraban antara anggota keluarga selalu terjalin.
Orang Palu punya sifat terus terang tingkat tinggi. Baik bilang baik, buruk bilang buruk. Jarang ada yang disimpan dalam hati (Blak blakan) .Namun hatinya baik dan peduli dengan orang lain
Kedatangan tamu dianggap sebagai berkah. Jangan pernah berharap diizinkan pulang oleh tuan rumah bila belum makan.
Kondisi kekeluargaan seperti yang digambarkan itu masih sangat kental di zaman orang tua dahulu hingga di era tahun 1900-an.
Di zaman yang serba instan dan praktis dewasa ini, kondisi menjamu makan kapan saja sudah mulai berkurang karena banyak ibu rumah tangga yang juga jadi pekerja di luar rumah baik' di pemerintahan, swasta dan juga usaha kecil-kecilan.
Sehingga acara silaturahmi antar keluarga yang dekat maupun jauh dilakukan ketika ada acara keluarga misalnya pesta pernikahan(posusa/poboti) , selamatan(posalama), atau akikah ( posombe bulua) serta arisan keluarga.
Pengobatan Tradisional
Bila ada anggota keluarga yang sakit, maka hal pertama yang akan dilakukan adalah mendeteksi jenis penyakit apakah penyakit medis atau ada gangguan dari alam lain. Dalam prakteknya yangdilakukan adalah mengobati penyakit tersebut secara tradisional.
Selain menggunakan ramuan alam yang berasal dari alam sekitar berupa tanaman obat (direbus atau ditempelkan), mengobati penyakit dengan cara ditiup juga dilakukan.
Orang tua yang memegang resep doa yang dimaksud akan meniup sambil membaca semacam kalimat penyembuh yang berbahasa Kaili pada daerah yang sakit.
Cara lain yang juga dilakukan adalah meniup air yang akan diminumkan pada penderita. Khusus untuk luka bakar atau gangguan pada pendengaran akan menggunakan minyak kelapa kampung atau minyak tawon/minyak sumbawa yang telah ditiup.
Bila ada seorang anak terjatuh, lalu bengkak atau berdarah maka secara tradisional orang tua akan mengambil pisau atau parang dan menekan bidang pisau/parang yang rata pada bagian yang sakit. Gunanya agar bengkak cepat turun dan darah terhenti pada area luka.
Bayi atau anak kecil yang menderita diare selain diminumkan obat/oralit, maka langkah pengobatan yang juga dilakukan adalah membawa anak pada dukun bayi yang akan meniup sambil mengurut perlahan pada bagian perut dan ujung tulang ekor. Alhamdulillah cara ini membawa hasil.
Ilmu pengobatan ini diturunkan oleh kakek/nenek pada seorang anak/ cucu keturunannya yang tertentu saja. Jadi kepribadian seorang anak/cucu juga menjadi salah satu faktor pertimbangan seseorang diturunkan ilmu ini.
Pembawaan yang tenang dan siap menolong orang kapan saja tanpa mengeluh menjadi syarat utamanya. Dengan demikian pengabdian tanpa pamrih kepada sesama yang menjadi tujuannya.
Ilmu yang diturunkan bila tidak diamalkan akan memakan diri sang pemilik. Berbagi manfaat bagi sesama tanpa meminta imbalan yang menjadi filosofinya.
Semoga apa yang disampaikan pada tulisan ini membawa manfaat dan menambah wawasan kita akan khasanah budaya daerah di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar