Sabtu, 30 Januari 2021

KISAH TIGA BOCIL

 Mengejar Layang Layang (3)

     Reza, Fary, dan Rival berjalan ke arah rumah Rival dekat kolam pemancingan tanggul Nosarara milik dokter Sari Mereka berjalan letih setelah seharian bermain dalam aktivitas sebagai anak anak kampung yang memang jago bermain.

     "Minum di rumahku kita dulu" Ajak Rival. sambil jalan menuju pintu dapur yang terbuka lebar. "Eh. darimana kamu tiga ini? Dari pagi tidak ada pulang makan" Bunda Mut ibunya Rival menyambut mereka dengan pertanyaan. "Dari bungi kami tadi bantu nenek Sadiyah" Jawab Rival singkat sambil menuangkan air di gelas untuk kedua temannya.

     "Makan apa kamu tadi"? Lanjut bunda Mut. "Makan pisang goreng di rumah Tante Mina" Sahut Fary meyakinkan. "Pulang mandi saja dulu, malam kenari lagi babikin mie kuah kita" Kata bunda Mut pada Reza dan Fary. "Iye, pulang dulu kami"

     Sesampainya di rumah masing masing, mereka mandi dan berganti pakaian karena waktu Magrib tidak lama lagi. Fary mengenakan kemeja lengan panjang dan sarung yang disampirkan di leher. Bertemu dengan Reza dan Rival di masjid Nurul Yaqin.

     Sesampainya di masjid, berwudhu dan merapikan sarung sholat. Terdengar azan mulai berkumandang. Para jamaah bergegas memasuki masjid. Reza dan kedua sahabatnya sudah siap dalam satu saf tepat di belakang imam. Mereka mengambil posisi agak ke samping. Tempat di tengah diperuntukkan untuk para totua/orang tua.

KISAHTIGABOCIL

           MENGEJARLAYANG LAYANG

 Mereka bertiga berlari menuju jalan ke arah bungi dimana layangan putus tadi berada. "He motor Reza" Teriak Fary menginginkan Reza yang berlari dan menyeberang jalan tanpa melihat kiri kanan. " Maaf om maaf" Kata Reza pada pengendara motor yang menatapnya tajam. "Kalau kamu ditabrak tadi, siapa yang salah"? Omel bapak itu sambil jalan.

 " Itu Reza" Teriak Rival sambil menunjuk pada sebuah layang layang yang tersangkut di ranting pohon kayu Jawa. " Ambil kayu itu bawa kemari" Perintah Reza pada Rival yang matanya tetap awas pada layangan putus itu.

  "Ini Fary kau jolok saja layang layang itu apa kau tinggi, pasti sampe kalau kau yang basoka(baca: jolok) " Kata Rival pada Fary sambil menyerahkan sebatang penjolok dari ranting kayu. Fary pun berusaha menjulurkan kayu panjang ke samping pohon agar mudah baginya menjatuhkan layangan itu. "Korek benang sisa itu biar talepas Fary...namali Iko (lambat kau)" Teriak Reza dengan tidak sabar. "Bantu tarik itu Rival, jangan hanya menonton"  Reza menyuruh Rival dengan panik. "Ok...ok bos sip"  Rival mengancungkan jempolnya.

  Tarik kiri kanan selama beberapa saat. Akhirnya evakuasi layangan putus berhasil. Weleh... weleh sebuah layangan putus yang harganya tak seberapa ternyata menjadi tema perjuangan tiga sahabat di sore itu.

  Mereka bertiga kemudian berjalan dengan celotehan yang tidak pernah putus ke arah lapangan bola di tepi jalan raya di tengah kampung Nunu. Sebenarnya berapa sih nilai atau harga sebuah layangan putus bila dibandingkan dengan upaya keras untuk mendapatkannya. Tak jarang anak-anak ini harus berebut dengan anak-anak yang lain yang punya misi yang sama yakni mendapatkan layangan putus. Entahlah, ada nilai seni yang seperti apa dalam mengejar layangan putus. Yang jelas bila musim layang-layang tiba, maka tim pemburu layangan 'embang' ini juga beraksi.

   "Badapat layang layang dimana kamu"? Tanya Anto dari arah lapangan futsal. Memang posisi lapangan bola dan lapangan futsal bersebelahan dan pas di depan rumah Anto."Di jalan ke bungi kitorang dapat"  Sahut mereka bertiga. "Apa tadi kitorang juga ba kejar layang layang, tapi hilang. Mungkin sudah itu tadi"   Sahut Anto sedikit kecewa. Tiga sahabat hanya tersenyum tipis mendengar kalimat nya Anto. "Kitorang (baca: kami) yang dapat bagaimana sudah"? Bisik Reza pada Fary dan Rival. "Beeh...biar saja"  Sahut mereka berdua hampir bersamaan diiringi senyum kemenangan.

Bersambung

Salam Literasi

Astuti, S.Pd,M.Pd.

SMPN 14 Palu Sulawesi Tengah.






Jumat, 29 Januari 2021

KISAH TIGA BOCIL

 MENGEJAR LAYANG - LAYANG

        Selama perjalanan pulang dari bungi  (baca:kebun;bahasa Kaili), ketiga bocah ini selalu bersenda gurau. Ada ada saja yang mereka jadikan bahan untuk tertawa. Mulai dari diri mereka sendiri yang entah bagaimana modelnya menjinjing sepasang kelapa yang lumayan berat bagi anak seusia mereka. Nenek Sadiyah dan om Mistar pun tak luput dari sorotan tiga spionase kampung ini.

        Ketika mendekati jalan aspal menuju pemukiman mendadak Reza berteriak lepas "he layang - layang putus" sambil menunjuk ke atas. Semua terkejut dan berhenti mendengar teriakan Reza yang cukup keras. Spontan nenek Sadiyah balas berteriak tak kalak kerasnya "weh, masalisamo nadea gau". Artinya ayo cepat tidak usah macam - macam. Fary dan Rival tersenyum melihat nenek Sadiyah memarahi Reza.

        "Kita taruh dulu ini kelapa bari kemari lagi kita nha"? Reza berbicara pelan pada kedua temannya yang juga sudah setengah mati membawa kelapa. "Iyo, sebantar jangan baribut, didengar lagi nanti kita" Jawab Fary hati - hati. "Ayo kemon bro" Reza memberi semangat sambil berjalan cepat di depan. Fary dan Rival hanya mengikuti dari belakang. Ingin rasanya cepat sampai di rumah Mina pikir mereka tentunya.

        Tidak berselang lama iring iringan bungi telah sampai dihalaman depan rumah Mina. Beliau adalah kakak sepupu Reza dan juga ponakan kandung nenek Sadiyah. "Mina ditaruh dimana ini kelapa"? Teriak Reza dari depan pintu dapur. "Taruh situ saja tidak apa - apa" Sahut Mina dari dapur. Tercium aroma pisang goreng. "Sini kamu orang Reza, Fary, dan Rival" Mina memanggil tiga bocah itu untuk masuk ke dapur.

        Tanpa menunggu panggilan kedua, ketiga sahabat ini sudah berada di dapur dan langsung mencolek pisang goreng yang masih panas itu. "Duduk saja ambil kursi itu" perintah Mina sambil menyodorkan sepiring pisang goreng panas. Ehm... narasa mpu (baca: enak sekali)

        "Mbana ka yaku Mina"?  (baca:mana untuk saya?) Nenek Sadiyah merasa cemburu dengan ketiga bocah yang sudah larut dalam dansa lidah karena pisang goreng masih panas.. "Hii ranga Sadiyah anu ka komiu (baca: ini bagiamu ada) Jawab Mina kalem dan langsung memberikan sepiring kecil pisang goreng untuk Bibinya.

    "Habis ini kamu tiga mandi semua apa navau soa/bau badan" Tandas nenek Sadiyah pada tiga  sahabat yang lagi asyik dengan pisang goreng dan teh hangat hidangan tante Mina. Mereka bertiga saling bertatapan penuh arti. Apa gerangan yang ada di pikiran mereka sehingga mereka tidak menjawab perintah nenek Sadiyah.

        Setelah gelas teh dan piring pisang goreng bersih tak berbekas, ketiga bocah itu berdiridan langsung keluar. Mereka berjalan beriringan. Terlihat mereka ingin segera berlalu dari depan nenek Sadiyah.

        "Mari cepat sudah ba kejar layang - layang tadi kita" Reza memberi isyarat kepada dua temannya ini. Tanpa menunggu jawaban lagi, segera mereka kabur tanpa pamit lagi. Dasar anak - anak tengil.

POTRET DI PELUPUK MATA

 PENGINGAT DIRI

        Pada bagian awal tulisan ini dipaparkan bahwa hidup ini hanya sementara. Oleh karena itu harus dihiasi dengan berbagai kebaikan atau manfaat bagi diri, orang lain, dan alam sekitar. Umur kita setiap saat bergerak. Pergerakan mundur usia seringkali membuat mata batin  ini banyak merenung. Mereka yang atas izin NYA mampu melihat dan merasa dengan rasa yang sesungguhnya pasti akan mengalami fase ini. Insha Allah.

        Tulisan ini sesungguhnya ditujukan sebagai pengingat diri sendiri sebelum mengingatkan orang lain. Apa yang nantinya hendak disampaikan semata mata hasil refleksi diri yang tentu saja berbalut banyak kekurangan. Penulis bukanlah seseorang yang terlahir sempurna tanpa cela. Lakon kehidupan yang menjadi takdir banyak mengajarkan perihal yang sifatnya 'personal'. Dalam artian tidak semua orang mengalami dan merasakan pengalaman faktual dan spritual yang telah dialami oleh penulis.

        Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam tidak pernah menciptakan dan mengatur jalannya suatu lakon kehidupan tanpa tujuan khusus bagi yang bersangkutan. Semua yang sudah diatur oleh NYA adalah bentuk sifat kasihsayang murni tanpa batas terhadap makhluk ciptaannya. Manusia yang dijadikan sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi  diberikan tanggung jawab mulia yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Subhanallah.

        Panduan hidup bagi seorang muslim sebagaimana kita ketahui dari buku buku agama dan ceramah para ustadz dan guru guru hebat adalah kitab suci Al Qur'an dan Hadist. Sejauh yang penulis pelajari selama ini bahwa kandungan dua sumber kitab agung dan mulia itu adalah tutorial atau tata cara hidup dan berkehidupan yang sangat lengkap. 

        Allah tidak pernah lelah memberikan rasa sayangnya pada setiap hambaNYA. Bila kita lalai pasti ada teguran lambat atau cepat. Proses pembelajaran akan terus ada selama napas masih melekat di badan. Benarlah jjika dikatakan bahwa hidup adalah proses. Dengan demikian tidak ada yang instant atau sim salabim. Jika memang ada yang terjadi tanpa proses  panjang sebagaimana umumnya maka sesungguhnya itu adalah anugerah berupa keajaiban atau "miracle'.

        Allah mengajar manusia bukan hanya melalui kitab suci dan hadist Nabi Muhammad SAW. Kejadian atau peristiwa yang nampak dalam kehidupan kita sehari - hari juga menjadi sumber pembelajaran bagi kaum yang berfikir. Mereka yang hatinya telah dibuka oleh yang Kuasa dengan mudah membaca tanda tanda ataupun peringatan yang datang dimana dan kapan saja.

        Kebaikan maupun keburukan semuanya adalah sumber pembelajaran. Sebuah kebaikan mungkin secara bijak bukan hanya mengharapkan pujian atau decakan kagum dan jempol. Lebih dari itu halyang baik seharusnya bisa menginspirasi kita untuk berbuat hal yang serupameski dalam ruang yang berbeda.

        Sebaliknya sebuak kesalahan atau kekeliruan orang lain bukan untuk dijadikan cemohan melainkan dijadikan pelajaran bagi yang lain agar tidak berbuat hal yang sama. Sebagai seorang Muslim sejati do'a untuk kebaikanbagi mereka yang telah dianggap bersalah tetap kita panjatkan. Bukankah sesungguhnya manusia itu adalah satu sama dan selalu terhubung? (Konsep ilmu Magnet Rezeki)

        Manusia sejatinya adalah  satu badan. Anggota badan yang satu sakit, maka anggota badan yang lain akan turut merasakannya. Cerita atau gambaran kehidupan yang nantinya akan tertuang dalam tulisan ini kiranya dimaksudkan untuk mencari  hikmah yang ada di dalamnya. Semoga bermanfaat.

Bersambung

CERITA TIGA BOCIL

 KE BUNGI /KEBUN (2)

        Hari ini hari minggu. Enaknya kemana dan main apa ya hari ini? Pikir Fary di suatu pagi. Saat itu waktu sudah menunjukan pukul 09.30 waktu Indonesia bagian tengah. Matahari bersinar terik meski masih pagi. Sudah mandi, sudah sarapan. Terus apa lagi? Suara hati Fary berkata..

        "Mak saya ke rumahnya Reza dulu" pamit Fary pada ibunya yang lagi mencuci piring di dapur. "Iya tapi jangan pergi mandi di kuala" Sahut ibunya Fary sambil terus menmbilas piring yang bertumpuk di sumur. Tanpa menunggu komando si Fary langsung menghilang di balik pagar di samping rumah.

        Sambil berlari kecil Fary menuju rumah Reza yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Nampak Reza dan Rival tengah duduk di teras  depan rumah Reza. Rupanya mereka berdua sudah menunggu kedatangan sahabat kentalnya yang berambut ikal ini. "Hey, sudah lama kamu batunggu"? Teriak Fary sambil berjalan menghampiri kedua temannya itu. "Belum juga" Reza menjawab serempak dengan Rival.

        "Bagaimana kalau kita ke 'bungi' lihat orang bapanjat kelapa. Biasanya hari minggu begini banyak orang panjat kelapa disana" Rival menawarkan rencana. "Terserah, mana - mana saya. Kau Fary bagaimana"? Reza bertanya pada Fary yang lagi duduk bersandar di kursi. "Saya baikut kamu saja bro" Jawab Fary santai. Tanpa berpikir panjang tiga sahabat ini langsung bergerak meninggalkan teras rumah Reza setelah pamit dengan ibunya.

        Dasar anak - anak, di tengah jalan pun masih saling kejar dan dorong dorongan satu sama lainnya. Sekitar sepuluh menit sampailah mereka di area kebun di pinggir kampung Beringin alias "Nunu". Kebun itu adalah milik neneknya Reza. Nenek Sadiyah  panggilannya. Selain pohon kelapa, di kebun nenek Sadiyah juga banyak hasil kebun yang lain misalnya pisang, kangkung, terong, rica, tomat, dan jagung.

        "Kemari kamu tiga" Teriak Nenek Sadiyah dengan suara lantang. "Ambil kelapa itu bawa ke pinggir" Ketiga bocah ini langsung tertawa dan melaksanakan perintah nenek Sadiyah tanpa banyak bertanya lagi. Baru datang sudah disuruh. Fary berkata dalam hati. Tapi tak apalah. Biasa rejeki anak sholeh.

        "Kamu suka kelapa muda" Teriak  sang nenek lagi. Serempak mereka menjawab "iye...suka sekali". Nenek Sadiyah menyeret beberapa kelapa muda yang baru saja dijatuhkan oleh om Mistar dari pucuk pohon kelapa. "Ambe parang Reza" Rival menyuruh Reza mengambil parang yang  ada di samping pohon kelapa.

        Dengan cekatan ketiga anak ini membelah kelapa muda yang begitu segar di tengah suhu udara yang semakin terik meski belum jam 12 siang. Beruntunglah di kebun yang tidak jauh dari tepi sungai itu banyak pohon yang menaungi. Tidak memakan waktu setengah jam tiga kelapa muda beserta airnya hampir bersih disapu  bersih oleh bocah tengil yang tidak kenal capek ini.

        "Hayi, habis kami makan kelapa muda ini nek " Rival berkata pada nenek Sadiyah yang sedang  membantu om Mistar mengumpulkan kelapa yang jatuh. "Tidak apa, makan saja. Habis ini kamu bantu bawa pulang ke rumah Mina nanti ini kelapa. Satu orang bawa dua kelapa nanti" Nenek Sadiyah menjelaskan isi perintahnya pada tiga bocah yang hanya tertawa lepas.

         Setelah membersihkan bekas batok kelapa yang mereka makan, ketiga anak ini lanjut duduk di atas rumput  sambil bersendawa atau "notoga" (bahasa Kaili). Nampak mereka bertiga puas dan kenyang dengan sajian nenek Sadiyah yang begitu nikmat di siang itu. "Alhamdulillah, rejeki anak sholeh" Fary berucap sambil mengelus pertnya yang sudah penuh terisi air dan daging kelapa muda segar.

        Beberapa saat kemudian nenek Sadiyah sudah siap dengan bawaan berupa kelapa dan sayuran hasil kebun yang baru saja dipetik. "Mari sudah anak - anak kamu bawa ini kelapa"  Katanya sambil menunjuk tiga pasang kelapa yang sudah diikat di bagian kulitnya agar mudah dijinjing pulang ke rumah. "Iye nenek nanti kitorang bawa" Jawab tiga bocah sahabat itu.

        Mereka jalan berbarengan meninggalkan area kebun alias bungi di minggu siang yang terik namun tetap menyenangkan.

Bersambung

        


Kamis, 28 Januari 2021

CERITA TIGA BOCIL

 TIGA SEKAWAN  (1)

        Reza, Fahry, dan Rival adalah tiga bocah yang tinggal di sebuah kampung. Nama desa itu adalah "Beringin". Entah bagaimana ceritanya sehingga desa itu diberi nama demikian. Selintas info yang dilamsir dari para totua (orang tua) yang masih hidup,  bahwa pada zaman dahulu di tepi desa itu di sebuah perbukitan hidup sebuah pohon raksasa. Namanya dalam bahasa setempat adalah "Nunu". Setelah di zaman modern baru diketahui ternyata"Nunu" itu adalah "pohon Beringin".

        Usia  para bocah itu sekitar 9 tahun. Mereka sekolah di sebuah madrasah di desanya kelas tiga. Setiap hari mereka selalu bermain bersama. Ada saja yang dilakukan misalnya main bola di lapangan darurat bekas kebun atau menyelam di dalam kolam pemancingan yang ada di pinggiran sungai Palu. Bahkan tidak jarang mereka mandi - mandi di sungai ketika air dangkal.

        Mandi di sungai Palu ibarat suatu perbuatan kriminal yang harus dicegah oleh orang tua atau orang dewasa yang melihat anak anak yang mandi mandi di sungai. Mengapa itu menjadi sebuah pelanggaran hukum bagi anak anak ? Jawabannya di sungai sering muncul buaya dan juga sudah banyak  orang yang tenggelam atau terbawa arus sungai hingga meninggal.

        Namun begitu anak anak tetaplah anak anak. Mereka masih sering melanggar yang penting situasi aman dan tidak ketahuan. Praktek menyelam untuk mendapatkan tude (sejenis kerang) di dasar sungai sering mereka lakukan. Haslinya bawa pulang ke rumah lalu direbus atau digoreng. Enak. santap bersama nasi panas.

        Malam hari mereka juga selalu bersama. Setelah sholat magrib mereka mengaji  dan lanju tshalat Isya di  masjid Nurul Yaqin yang para pengurusnya adalah paman mereka sendiri. Setelah itu pulang makan malam di rumah masing masing. Tidak puas, mereka lanjut lagi bermain di lapangan bola dekat rumah. Entah main kelar atau sepeda bersama anak anak kampung yang lain, yang jelas merekamelanjutkan naluri bermainnya.

        Ketika orang tuadatang mencari dan memanggil pulang, barulah mereka bubar tanpa perlawanan. Bagaimana kishReza, Fahry, dan Rival di hari hari selanjutnya?  Kita tunggu ya ?

 


POTRET DI PELUPUK MATA

 SELINTAS

    Hidup ibarat panggung sandiwara. Lakon tanpa henti semasih roh dan raga bersatu. Demikian ungkapan bijak yang sering saya dengar. Ketika masih anak - anak, remaja,  bahkan setelah usia menginjak dewasa pun saya belum terlalu memahami makna kalimat tersebut.

    Seiring perjalanan waktu, pengalaman hidup tentu juga bertambah. Selain itu usia yang terus bergerak mundur akan mengarahkan jiwa untuk lebih banyak menekur. Memang naturalnya seperti itu. Akan tetapi manusia adalah makhluk unik yang dibekali dengan bakat atau bawaan yang berbeda  satu sama lainnya.

    Keadaan inilah yang biasanya membuat setiap orang memiliki grafik perkembangan kepribadian atau pemahaman yang berbeda. Yang tidak kalah menentukan juga adalah terbukanya pemahaman batin  atau pikiran oleh sang pemilik hati , Allah swt Tuhan sekalian alam.

    Menurut kaum bijak bahwa orang cerdas itu adalah mereka yang sadar bahwa hidup itu hanya sementara. Setelah kehidupan dunia fana ini, akan ada kehidupan abadi di alam lain. Semua yang bernyawa akan mati. Hanya Tuhanmu lah yang  memiliki kebesaran dan kemuliaan yang akan kekal selamanya. Demikian dikatakan dalam kitab suci kaum Muslim surah Ar-rahman..

    Kehidupan alam dunia yang sifatnya sementara ini semestinya dijadikan ajang untuk menebar manfaat bagi sesama dan alam sekitar.  Karena itulah tujuan manusia diciptakan. Semua yang dilakukan akan diminta pertanggungjawaban.nantinya. Ibarat praktek lapangan seorang mahasiswa, pelaporan akhir harus dibuat dan dipertanggungjawabkan.

    Hidup harus diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Di usia yang tidak ABG lagi refleksi diri seharusnya lebih gencar. Pengalaman hidup bukankah sebaiknya dibagi kepada orang lain? Yang bermanfaat kiranya menjadi inspirasi, sedangkan yang kurang manfaat dijadikan contoh untuk tidak ditiru, seperti  kata pepatah  "pengalaman adalah guru yang terbaik".

    Berawal dari renungan itu timbulah sebuah kesadaran untuk berbagi. Meninggalkan jejak dengan cara bertutur bak dongeng sebelum tidur mungkin bukan zamannya lagi. Menorehkan tinta dari sebuah ujung pena itulah pilihan. Menebarkan goresan tinta tentunya lebih baik. Meniupkannya secara digital adalah kehendak zaman.

    Mulailah bertutur. Mulailah berkisah secara tertulis. Memainkan ujung pena atau memainkan ujung jemari pada tuts gawai bukanlah sesuatu yang sia - sia. Paparkan segala rasa dan asa di sana. Jangan takut! waktu akan merangkainya dalam benang  - benang kalimat penuh inspirasi tanpa tepi. seperti kata om Jay "menulis dan menulislah dan biarkan tulisan itu menemui takdirnya sendiri". Aamiin.

 

Senin, 04 Januari 2021

MOGANGGO PUASA/MENGAWALI PUASA

 Datangnya satu ramadhan merupakan saat yang sangat dinantikan oleh kaum muslim di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia.

Di Indonesia yang merupakan negara mayoritas muslim sangat terasa nuansa bulan ramadhan dari awal hingga datangnya satu syawal. Semua bergembira menyambut datangnya bulan suci penuh rahmat dan berkah.

Betapa tidak? Bulan ramadhan yang terdiri dari tiga puluh hari iti terbagi menjadi tiga fase. Sepuluh hari pertama merupakan fase rahmat, sepuluh hari kedua fase ampunan, dan sepuluh hari ketiga merupakan pembebasan dari api neraka. Subhanallah.

 Masyarakat Kaili yang mendiami lembah Palu dan sekitarnya  mayoritas beragama Islam. Sebagaimana daerah daerah lainnya di Indonesia, di kota Palu khususnya dan Sulawesi Tengah pada umumnya menyambut kedatangan bulan barokah ini dengan segenap kesyukuran.

Masjid masjid yang besar maupun yang kecil penuh dengan jamaah baik tua, muda, dan anak anak. Seolah tak ada yang mau ketinggalan dengan keistimewaan bulan puasa.

Ketika shalat tarwih, subuh, magrib, dan isya kebanyakan masyarakat melakukannya di masjid terdekat. Demikian pula pada saat berbuka puasa, banyak yang datang berbuka di masjid sekaligus shalat magrib berjamaah.

Para  ibu dan dermawan tidak menyianyiakan waktu untuk datang atau mengirim hidangan berbuka berupa teh manis (jenis minuman lain) dan jajanan untuk berbuka. Sedangkan untuk menu sahur banyak kelompok atau komunitas muslim yang ikhlas menabung kebajikan dengan menyiapkan hidangan sahur dalam bentuk nasi bungkus terutama di masjid masjid besar yang mudah dijangkau oleh para musafir atau mereka yang membutuhkan.

Indahnya berbagi berkah di bulan suci.

Dalam tradisi keluarga suku 'Kaili' bulan ramadhan merupakan bulan berkumpul dalam keluarga. Kebiasaan pulang kampung untuk mengawali ramadhan secara bersama sama sudah berlangsung sejak dahulu kala. 

Mereka yang mencari penghidupan atau menuntut ilmu  di kota, pasti berusaha pulang kampung pada bulan puasa. Terutama mereka yang masih memiliki keluarga utuh, ada ayah dan ibu. Kerinduan untuk  bersama pasti selalu ada.

Orang Kaili asli pada awal ramadhan senang membuat hidangan sahur dengan nasi ketan dan sayut santan ikan yang sudah dipanggang/diasap (bau tapa dalam bahasa kaili) atau ayam bakar. Namanya 'uta dada'. Ini hidangan faforit yang harus ada sebagai pasangan dari ketan yang dimasak seperti nasi.Biasanya  juga dimasak dengan santan. Wah..seddap alias 'narasa'  dalam bahasa Kaili.

Untuk mereka yang belum mengidap penyakit misalnya kolestrol atau asam urat, maka makanan yang tersebut di atas akan selalu ada sepanjang ramadhan.

Orang Kaili senang makanan yang pedas dan sedikit kecut. Sehingga hampir setiap masakannya diselip dengan asam Jawa walaupun hanya sebutir kecil. Yang  penting aromanya.

Dengan kondisi selera yang seperti ini, orang Kaili yang biasanya pergi mengunjungi keluarga di pulau Jawa, sering membawa bekal 'sambel lambok atau cabe rawit" sebagai pelengkap makanan.

Berdasarkan pengalaman bila orang Kaili berada di Jakarta atau kota lain di pulau Jawa, maka solusi untuk selera makan ini biasanya diselesaikan di warung Minamg. Selera masakannya  hampir sama, agak pedas dan kental. Waduh, gimana kalau ke luar negeri? bisa repot kalau begini.

Hidangan lain yang mesti ada di hari hari bulan ramadhan adalah 'sayur kelor' yang disantan dan 'ikan palumara', yakni ikan berkuah kunyit dan asam Jawa kental dengan rasa pedas.

Hidangan seperti ini akan membuat kerinduan para perantau semakin besar untuk segera pulkam ketika ramadhan. Mungkin karena kesibukan, para Kaili perantau di kota kota lain tidak sempat memasak sendiri  (malah ada yang mengatakan kalau masak sendiri justru 'tidak enak')

Konon rasa masakan di kampung yang dibuat oleh ahlinya beda dengan hasil masakan anak sekarang meski bahan dan tata cara masaknya sebenarnya sama. Entahlah, apa yang membedakannya.

Inilah situasi dalam  keluarga "Kaili" di bulan ramadhan. Bagaimana dengan daerah lain? pasti juga memiliki kisah unik di bulan suci ramadhan. Mungkin ceritanya lebih seru lagi.

Lain padang lain belalang lain lubuk lain pula ikannya.Demikianlah kata pepatah. Semoga bermanfaat. Wasallam.