Jumat, 18 Desember 2020

UTA KELO/ SAYUR KELOR


 
Kelor adalah tanaman khas sekaligus sayur utama suku Kaili. Begitu melekatnya energi  tanaman  yang tumbuhnya selalu menjulang ini dalam kehidupan masyarakatnya.

Ada kalimat yang sering saya dengar "kalau sudah makan kelor maka tidak akan bisa kembali ke kampung halaman". Ini ditujukan untuk para pendatang di kota Palu.

Mereka tidak akan pernah lupa di Palu dan selalu berhasrat untuk kembali lagi kalau sudah pernah makan  kelornya orang Kaili.

Namun sudah jadi kebiasaan juga sejak dahulu kala, bila ada orang meninggal sebaiknya jangan masak sayur kelor. Alasannya mungkin karena pada sebagian masyarakat kelor biasanya digunakan untuk menggosok jenazah guna menghilangkan ilmu tertentu yang ada pada dirinya. 

Sebagai anak yang masih awam, kita mah nurut saja apa pantangan orang tua. Takut kualat alias durhaka.
 
Di tanah Kaili aslinya kelor adalah jenis tanaman yang dibuat sayur santan dengan cita rasa yang agak pedis. Hidangan ini dilengkapi dengan nasi jagung dan ikan teri  goreng (duo sole) yang disaus dengan lombok,bawang dan tomat atau juga palumara (ikan berkuah kunyit dan campuran asam jawa yang agak kental). Ini adalah hidangan komplete dari sononya.

Dalam perkembangannya terutama dalam penelitian kelor dikatakan sebagai tanaman ajaib atau miracle plant. Kandungan manfaat yang begitu banyak membuat kelor menjadi tanaman kesehatan.

Tapi belum semua masyarakat umum mengkonsumsi kelor dengan mudah. Mungkin karena konon katanya kelor bisa melunturkan ilmu ilmu tertentu yang ada dalam diri seseorang. 

Dalam dunia pengetahuan kelor digolongkan sebagai salah satu jenis tanaman obat.  Para ahli meramu kelor dalam bentuk yang beragam agar masyarakat bisa mengkonsumsinya dengan mudah. Misalnya dibuat bubuk minuman, makanan ringan dan jus kelor. Pokoknya Made in kelor. Kelor dari  tanah Kaili bukan kelor dari Bali.

Menurut penelitian bahwa kelor mengandung  vitamin C yang sangat tinggi. Untuk menerlusir gula darah juga boleh menggunakan kelor sebagai sayur harian.  Sehingga sangat cocok untuk penderita diabetes. 
 
Bahkan untuk mereka yang terpapar virus Corona juga sangat dianjurkan konsumsi kelor sebagai sayur terutama yang berkuah. Sehingga dalam perkembangannya, saat ini kelor sering dibuat sayur bening dengan campuran terong atau jagung sesuai selera.
 
Pada dasarnya kelor bisa hidup dimana saja baik di daerah dingin atau daerah panas. Perbedaannya tumbuhan kelor yang hidup di Tanah Kaili daunnya kecil dan tipis. Sedangkan kelor yang hidup di daerah Jawa daunnya lebar dan tebal.
 
Terjadi perbedaan rasa antara kelor dengan iklim yang berbeda yakni 'rasa pahit'. Kelor di daerah dingin cenderung terasa pahit bila dimasak apalagi dalam suhu tinggi. Sedangkan kelor yang berdaun tipis dan kecil tidak terasa pahit bila cara memasaknya tidak terlalu lama.
 
Intinya bila dimasak dalam suhu yang terlalu panas dan ditutup, zat hijau daun kelor akan keluar sehingga menimbulkan rasa pahit. Sebaiknya bila selesai memasak kelor jangan ditutup. Harus dibiarkan terbuka hingga dingin.
 
Itulah kisah kelor tanah Kaili yang  membuat para perantau tidak akan pernah lupa akan kota Palu meski panas dan debu selalu menghiasainya.


1 komentar: