Rabu, 09 Desember 2020

TANAHNGGU KAILI


             Tanahnggu Kaili    

Judul yang tertulis di atas berasal dari bahasa Kaili dialek Tara (salah satu dialek dalam bahasa Kaili). Tanahnggu Kaili berarti kaili tanahku. dalam artian tempatku dilahirkan, dibesarkan dan mencari kehidupan. 

Dari sisi mencari kehidupan sebenarmya tidak berlaku mutlak atau harus. Banyak orang kaili yang merantau ke daerah lain dan mencari penghidupan di sana. 

Tapi, sering terjadi mereka yang sudah menyatu dengan kehidupan barunya di kota lain  datang ke Palu hanya untuk ziarah atau mengunjungi keluarga dan kuliner alias cuci leher dengan uta kelo dan duo sole serta palumara.

Suku Kaili bila dilihat dari sejarah keberadaannya sebenarnya berasal dari Sulawesi Selatan. Sebab lembah Palu itu pada awalnya adalah lautan tak bertepi. 

Penduduknya tinggal di pegunungan yang mengelilingi lembah. Seiring dengan proses alam, maka lembah Palu sebagian besar sudah menjadi daratan dan didiami oleh penduduk.

Hal ini bisa dibenarkan dengan adanya legenda perahu saweri gading yang terdampar di tepi pantai. Namun bila dilihat kembali tempat tersebut, ternyata berpuluh  puluh kilometer jaraknya dari tepi pantai kota Palu saat ini.

Dalam kesehariannya masyarakat Palu asli, hidup dari bertani di sawah atau bercocok tanam di kebun. Bagi yang tinggal di pesisir pantai maka pencahariannya adalah sebagai nelayan. Sebagian yang lain menjadi tukang, pedagang dan pegawai.

Tatanan kehudupan masyarakatnya masih mengutamakan persaudaraan yang sangat erat. Bila mengadakan sebuah pesta, maka semua saudara dekat ataupun jauh pasti diundang. Mereka berkumpul di rumah tempat hajatan jauh hari sebelum acara diadakan.

Kehidupan bersama dan gotong royong manjadi sebuah tradisi yang tidak bisa hilang. Saling membantu dan memenuhi keperluan sudah menjadi tata aturan yang berlaku turun temurun. 

 

Prinsip mereka adalah hari ini kita punya maka kita harus membantu yang lain. Esok lusa kita butuh maka orang lain pun akan membantu kita.

Itulah sebabnya pada zaman dahulu banyak orang Kaili yang menikah dengan saudara sendiri atau mereka yang orang tuanya masih memiliki ikatan persaudaraan atau kekerabatan.

 

Para pendahulu orang Kaili sangat takut bila mereka akan mendapatkan anak menantu yang bibit bobot dan bebetnya tidak diketahui. 

Pewarisan harta mungkin juga menjadi salah satu pertimbangan bagi para orang tua dahulu untuk mengawinkan anaknya dalam satu turunan atau ikatan kekeluargaan.

Seiring dengan perkembangan waktu, orang Kaili sudah banyak berubah, terutama  dalam hal mindset atau cara berpikir. 

Budaya asimilasi perlahan mulai diterima. Seorang anak sudah boleh memilih pasangan hidupnya sendiri tanpa harus mengikuti kemauan orang tua. Yang menjalani hidup toh anak itu sendiri. Merekalah yang akan membawa biduk kehidupannya, orang tua tinggal merestui dan mendoakan.

Dalam hal interaksi pergaulan kemasyarakatan, orang Kaili tergolong kaum yang lebih fleksibel ketika bertemu dengan sesuatu yang baru. apalagi dalam hal penggunaan bahasa Indonesia. 

Pada umumnya orang Kaili baik yang tinggal  di kota atau bahkan yang tinggal jauh di atas pegunungan mampu berbahasa Indonesia ketika bertemu dengan orang baru. 

Meskipun bahasa Indonesianya masih terpengaruh dengan dialek bahasa daerah, yang jelas mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Bila dibandingkan dengan daerah daerah di pulaiu Jawa dimana masyarakatnya menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pergaulan. 

Maka di tanah Kaili masyarakatnya seperti yang telah disebut di atas sangat fleksibel dalam beradaptasi budaya khususnya bahasa. 

Jadi jangan takut kalau datang ke Palu 'kesasar' karena tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh penduduknya. Kata orang sana take it easy!.

Dengan kondisi yang sangat acceptable seperti ini, maka di kota Palu digunakan bahasa pergaulan yang bermacam macam. Yang paling dominan adalah "logat Manado". Setelah itu baru logat Kaili sendiri, Bugis, Jawa dan yang lainnya.

Namun demikian para pengguna logat minoritas ini akan selalu menyesuaikan dengan logat Manado yang lebih dominan. 

Sehingga di Palu sering kedengaran lucu ada orang Jawa yang sangat medok berusaha mengikuti logat Manado yang kalau ditirukan pengucapannya menimbulkan makna lain. Ini sering dijadikan guyonan di masyarakat.

Itulah sekilas gambaran masyarakat Palu "orang Kaili" dengan segala keberadaannya.

Yah, saya sebagai orang asli Palu alias orang Kaili  melihat bahwa masyarakat Palu adalah masyarakat yang heterogen. Mereka mampu menerima perbedaan dan pembaharuan dalam konteks kemajemukan.

Kiranya apa yang penulis coba paparkan dalam kesempatan ini bisa memberi inspirasi akan adanya dinamika dalam suatu tatanan budaya masyarakat.

Perubahan yang sifatnya lebih positif dan mendorong tumbuh kembangnya budaya itu sendiri tentunya bisa diterima. 

Sebaliknya perubahan yang sifatnya meruntuhkan pesan pesan bermakna dalam suatu budaya, akan dipertimbangkan secara matang demi kelestarian budaya nenek moyang yang sesungguhnya adalah akar budaya bangsa.

Medio awal Desember 2020.

Wasalam

Penulis

 

12 komentar:

  1. Silahkan meninggalkan komenπŸ™

    BalasHapus
  2. Silahkan beri saran atau kritik ya?

    BalasHapus
  3. Mantap tulisannya dari pengamatan yg jeli. Salut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungan Anda. Moga tulisan ini ke depan bisa manfaat bagi orang lainπŸ‘‹πŸ‘

      Hapus
  4. Keren mnmbh pngetahuan ttg suku Kaili

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak atas kunjungan Bu Rita...nambah spirit nih dikunjungi mentori πŸ‘‹

      Hapus
  5. Keren sekali.. Lengkap sajiannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak atas kunjungan pak Bajuri... nambah info pak yaaaπŸ‘‹πŸ€—πŸ™

      Hapus
  6. Keren tambah lagi wawasan saya tentang Indonesia

    "Prinsip mereka adalah hari ini kita punya maka kita harus membantu yang lain. Esok lusa kita butuh maka orang lain pun akan membantu kita." saya juga kutipan ini....

    Terimakasih

    BalasHapus
  7. Terima kasih banyak atas kunjungan Anda pak Indrawahyuddin. Silahkan mengambil yang cocokπŸ™πŸ‘πŸ‘‹

    BalasHapus
  8. Terima kasih atas ilmunya. Cuma sedikit tanya dari aku tentang kabar terkini Palu pasca tragedi Tanah Bergeraknya. Bagaimana kondisi sekitar area tersebut?

    BalasHapus
  9. Terima kasih banyak atas kunjungan Anda pakπŸ‘‹ untuk saat ini lokasi bekas likuifaksi tidak bisa lagi dijadikan hunian. Zona merah. Para penduduk nya tinggal di Huntara dan huntap meski belum semua tertampung sesuai harapan. Msi menunggu. Lokasi likuifaksi ada yg membentuk jurang besar dan ada yang menggunung. Gunung lumpur waktu itu. Moga kita semua dijauhkan dari segala musibah. Aamiin ya Rabb πŸ™

    BalasHapus