Suku Kaili adalah penduduk asli yang mendiami lembah Palu dan sekitarnya.Sebagai salah seorang generasi "Tanah kaili" ada kesadaran untuk meninggalkan jejak'digital tentang potret keseharian 'orang kaili yang berada di 'Tanah Kaili - Palu - Sulawesi Tengah.' Moga informasi tersaji dalam blog yang sederhana ini bermanfaat
Jumat, 18 Desember 2020
UTA KELO/ SAYUR KELOR
Minggu, 13 Desember 2020
NOMPAPOLA ADA NTOTUA/MEMELIHARA TRADISI LELUHUR
KAPUNA NOBILI BAN/BUAYA BERKALUNG BAN
"DOYATA NTO KAILI '/ PEKARANGAN ORANG KAILI
Aamiin ya Rabb 🙏
Kamis, 10 Desember 2020
MENUNGGU/NOPEA
MENUNGGU/NOPEA
Pernah mengalami yang namanya menunggu? Bagaimana rasanya?
Rabu, 09 Desember 2020
TANAHNGGU KAILI
Tanahnggu Kaili
Judul yang tertulis di atas berasal dari bahasa Kaili dialek Tara (salah satu dialek dalam bahasa Kaili). Tanahnggu Kaili berarti kaili tanahku. dalam artian tempatku dilahirkan, dibesarkan dan mencari kehidupan.
Dari sisi mencari kehidupan sebenarmya tidak berlaku mutlak atau harus. Banyak orang kaili yang merantau ke daerah lain dan mencari penghidupan di sana.
Tapi, sering terjadi mereka yang sudah menyatu dengan kehidupan barunya di kota lain datang ke Palu hanya untuk ziarah atau mengunjungi keluarga dan kuliner alias cuci leher dengan uta kelo dan duo sole serta palumara.
Suku Kaili bila dilihat dari sejarah keberadaannya sebenarnya berasal dari Sulawesi Selatan. Sebab lembah Palu itu pada awalnya adalah lautan tak bertepi.
Penduduknya tinggal di pegunungan yang mengelilingi lembah. Seiring dengan proses alam, maka lembah Palu sebagian besar sudah menjadi daratan dan didiami oleh penduduk.
Hal ini bisa dibenarkan dengan adanya legenda perahu saweri gading yang terdampar di tepi pantai. Namun bila dilihat kembali tempat tersebut, ternyata berpuluh puluh kilometer jaraknya dari tepi pantai kota Palu saat ini.
Dalam kesehariannya masyarakat Palu asli, hidup dari bertani di sawah atau bercocok tanam di kebun. Bagi yang tinggal di pesisir pantai maka pencahariannya adalah sebagai nelayan. Sebagian yang lain menjadi tukang, pedagang dan pegawai.
Tatanan kehudupan masyarakatnya masih mengutamakan persaudaraan yang sangat erat. Bila mengadakan sebuah pesta, maka semua saudara dekat ataupun jauh pasti diundang. Mereka berkumpul di rumah tempat hajatan jauh hari sebelum acara diadakan.
Kehidupan bersama dan gotong royong manjadi sebuah tradisi yang tidak bisa hilang. Saling membantu dan memenuhi keperluan sudah menjadi tata aturan yang berlaku turun temurun.
Prinsip mereka adalah hari ini kita punya maka kita harus membantu yang lain. Esok lusa kita butuh maka orang lain pun akan membantu kita.
Itulah sebabnya pada zaman dahulu banyak orang Kaili yang menikah dengan saudara sendiri atau mereka yang orang tuanya masih memiliki ikatan persaudaraan atau kekerabatan.
Para pendahulu orang Kaili sangat takut bila mereka akan mendapatkan anak menantu yang bibit bobot dan bebetnya tidak diketahui.
Pewarisan harta mungkin juga menjadi salah satu pertimbangan bagi para orang tua dahulu untuk mengawinkan anaknya dalam satu turunan atau ikatan kekeluargaan.
Seiring dengan perkembangan waktu, orang Kaili sudah banyak berubah, terutama dalam hal mindset atau cara berpikir.
Budaya asimilasi perlahan mulai diterima. Seorang anak sudah boleh memilih pasangan hidupnya sendiri tanpa harus mengikuti kemauan orang tua. Yang menjalani hidup toh anak itu sendiri. Merekalah yang akan membawa biduk kehidupannya, orang tua tinggal merestui dan mendoakan.
Dalam hal interaksi pergaulan kemasyarakatan, orang Kaili tergolong kaum yang lebih fleksibel ketika bertemu dengan sesuatu yang baru. apalagi dalam hal penggunaan bahasa Indonesia.
Pada umumnya orang Kaili baik yang tinggal di kota atau bahkan yang tinggal jauh di atas pegunungan mampu berbahasa Indonesia ketika bertemu dengan orang baru.
Meskipun bahasa Indonesianya masih terpengaruh dengan dialek bahasa daerah, yang jelas mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
Bila dibandingkan dengan daerah daerah di pulaiu Jawa dimana masyarakatnya menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pergaulan.
Maka di tanah Kaili masyarakatnya seperti yang telah disebut di atas sangat fleksibel dalam beradaptasi budaya khususnya bahasa.
Jadi jangan takut kalau datang ke Palu 'kesasar' karena tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh penduduknya. Kata orang sana take it easy!.
Dengan kondisi yang sangat acceptable seperti ini, maka di kota Palu digunakan bahasa pergaulan yang bermacam macam. Yang paling dominan adalah "logat Manado". Setelah itu baru logat Kaili sendiri, Bugis, Jawa dan yang lainnya.
Namun demikian para pengguna logat minoritas ini akan selalu menyesuaikan dengan logat Manado yang lebih dominan.
Sehingga di Palu sering kedengaran lucu ada orang Jawa yang sangat medok berusaha mengikuti logat Manado yang kalau ditirukan pengucapannya menimbulkan makna lain. Ini sering dijadikan guyonan di masyarakat.
Itulah sekilas gambaran masyarakat Palu "orang Kaili" dengan segala keberadaannya.
Yah, saya sebagai orang asli Palu alias orang Kaili melihat bahwa masyarakat Palu adalah masyarakat yang heterogen. Mereka mampu menerima perbedaan dan pembaharuan dalam konteks kemajemukan.
Kiranya apa yang penulis coba paparkan dalam kesempatan ini bisa memberi inspirasi akan adanya dinamika dalam suatu tatanan budaya masyarakat.
Perubahan yang sifatnya lebih positif dan mendorong tumbuh kembangnya budaya itu sendiri tentunya bisa diterima.
Sebaliknya perubahan yang sifatnya meruntuhkan pesan pesan bermakna dalam suatu budaya, akan dipertimbangkan secara matang demi kelestarian budaya nenek moyang yang sesungguhnya adalah akar budaya bangsa.
Medio awal Desember 2020.
Wasalam
Penulis














