Jumat, 18 Desember 2020

UTA KELO/ SAYUR KELOR


 
Kelor adalah tanaman khas sekaligus sayur utama suku Kaili. Begitu melekatnya energi  tanaman  yang tumbuhnya selalu menjulang ini dalam kehidupan masyarakatnya.

Ada kalimat yang sering saya dengar "kalau sudah makan kelor maka tidak akan bisa kembali ke kampung halaman". Ini ditujukan untuk para pendatang di kota Palu.

Mereka tidak akan pernah lupa di Palu dan selalu berhasrat untuk kembali lagi kalau sudah pernah makan  kelornya orang Kaili.

Namun sudah jadi kebiasaan juga sejak dahulu kala, bila ada orang meninggal sebaiknya jangan masak sayur kelor. Alasannya mungkin karena pada sebagian masyarakat kelor biasanya digunakan untuk menggosok jenazah guna menghilangkan ilmu tertentu yang ada pada dirinya. 

Sebagai anak yang masih awam, kita mah nurut saja apa pantangan orang tua. Takut kualat alias durhaka.
 
Di tanah Kaili aslinya kelor adalah jenis tanaman yang dibuat sayur santan dengan cita rasa yang agak pedis. Hidangan ini dilengkapi dengan nasi jagung dan ikan teri  goreng (duo sole) yang disaus dengan lombok,bawang dan tomat atau juga palumara (ikan berkuah kunyit dan campuran asam jawa yang agak kental). Ini adalah hidangan komplete dari sononya.

Dalam perkembangannya terutama dalam penelitian kelor dikatakan sebagai tanaman ajaib atau miracle plant. Kandungan manfaat yang begitu banyak membuat kelor menjadi tanaman kesehatan.

Tapi belum semua masyarakat umum mengkonsumsi kelor dengan mudah. Mungkin karena konon katanya kelor bisa melunturkan ilmu ilmu tertentu yang ada dalam diri seseorang. 

Dalam dunia pengetahuan kelor digolongkan sebagai salah satu jenis tanaman obat.  Para ahli meramu kelor dalam bentuk yang beragam agar masyarakat bisa mengkonsumsinya dengan mudah. Misalnya dibuat bubuk minuman, makanan ringan dan jus kelor. Pokoknya Made in kelor. Kelor dari  tanah Kaili bukan kelor dari Bali.

Minggu, 13 Desember 2020

NOMPAPOLA ADA NTOTUA/MEMELIHARA TRADISI LELUHUR


Masyarakat Palu tanah Kaili pada umumnya masih kental memelihara tradisi leluhur yang telah diwariskan secara turun temurun.

Kelompok ini masih taat menjalankan berbagai ritual penghormatan terhadap para orang tua yang telah mendahului.

Segala petuah dan hal yang mereka lakukan semasa hidup dilanjutkan oleh para keturunannya. 

Hal yang paling menonjol adalah pengobatan tradisional dan pembacaan doa secara teratur untuk arwah mereka yang telah mendahului. 
 
Selain itu 'baca doa' juga dilakukan bila seorang anggota keluarga bermimpi kedatangan arwah orang yang telah meninggal. Itu pertanda almarhaum/almarhumah minta dikirimkan doa. 
 
Segera anggota keluarga dan keturunannya  membeli pakaian misalnya sarung baju koko/baju gamis untuk lelaki dan busana wanita pada umumnya untuk perempuan. Pakaian ini akan disedekahkan pada orang lain dengan niat pahalanya untuk yang telah meninggal.

Sebelum acara baca doa mereka akan berziarah ke makam para pendahulu untuk mengirimkan doa . Setelah itu baru melakukan pembacaan doa di rumah disertai dengan makan bersama sama dalam satu keluarga 

Pada umumnya keluarga yang hadir merupakan saudara atau sanak famili sendiri yang  tinggal dalam satu  patakan tanah yang luas . Kekompakan inilah yang turut membantu lestarinya budaya leluhur yang mereka pegang.

Jika ada pekerjaan, maka mereka akan bergotong royong saling membantu satu sama lainnya.
Misalnya kerja keroyokan dalam mendirikan tiang raja sebuah rumah. Kegiatan masak memasak makanan khas Kaili tentu tidak akan  pernah luput.

Orang Kaili memang kuat memegang semboyan one for all terutama untuk kegiatan jamuan bersama.  Berbagi berkah sangat diutamakan dan rezeki tidak akan pernah habis. Siapa saja yang datang sesungguhnya memakan rezekinya sendiri. Tuan rumah hanya sebagai perantara datangnya rezeki itu sendiri.

Penyelenggara hajatan atau tuan rumahlah yang menanggung semua biaya yang dibutuhkan. Saudara yang lain menyumbang tenaga. Setelah itu makan bersama dalam situasi ramai hampir kayak pasar.

Rata rata orang Kaili memiliki volume suara yang  keras (pengaruh geografis gunung dan laut)  sehingga kalau sudah berkumpul pasti ramai dan seru. Disinilah letak keakraban antara  anggota keluarga selalu terjalin.

Orang Palu punya sifat terus terang tingkat tinggi. Baik bilang baik, buruk bilang buruk. Jarang ada  yang disimpan dalam hati (Blak blakan) .Namun hatinya baik dan peduli dengan orang lain

Kedatangan tamu dianggap sebagai berkah. Jangan pernah berharap  diizinkan pulang oleh tuan rumah bila belum makan. 

Kondisi kekeluargaan seperti yang digambarkan itu masih sangat kental di zaman orang tua dahulu hingga  di era tahun  1900-an.

Di zaman yang serba instan dan praktis dewasa ini, kondisi menjamu makan kapan saja sudah mulai berkurang karena banyak ibu rumah tangga yang juga jadi pekerja di luar rumah baik' di pemerintahan, swasta dan juga usaha kecil-kecilan.

Sehingga acara silaturahmi antar keluarga yang dekat maupun jauh dilakukan ketika ada acara keluarga misalnya pesta pernikahan(posusa/poboti) , selamatan(posalama), atau akikah ( posombe bulua) serta arisan keluarga.
 
Pengobatan Tradisional 

Bila ada anggota keluarga yang sakit, maka hal pertama yang akan dilakukan adalah mendeteksi jenis penyakit apakah penyakit medis atau ada gangguan dari alam lain. Dalam prakteknya yangdilakukan adalah mengobati penyakit tersebut secara tradisional.

Selain menggunakan ramuan alam yang berasal dari alam sekitar berupa tanaman obat (direbus atau ditempelkan), mengobati penyakit dengan cara ditiup juga dilakukan. 
 
Orang tua yang memegang resep doa yang dimaksud akan meniup sambil membaca semacam  kalimat penyembuh yang berbahasa Kaili pada daerah yang sakit. 
 
Cara lain yang juga dilakukan adalah meniup air yang akan diminumkan pada penderita. Khusus untuk luka bakar atau gangguan pada pendengaran akan menggunakan minyak kelapa kampung atau minyak tawon/minyak sumbawa yang telah ditiup.
 
Bila ada seorang anak terjatuh, lalu bengkak atau berdarah maka secara tradisional orang tua akan mengambil pisau atau parang dan menekan bidang pisau/parang yang rata pada bagian yang sakit. Gunanya agar bengkak cepat turun dan darah terhenti pada area luka. 

Bayi atau anak kecil yang menderita diare selain diminumkan obat/oralit, maka langkah pengobatan yang juga dilakukan adalah membawa anak pada dukun bayi yang akan meniup sambil mengurut perlahan  pada bagian perut dan ujung tulang ekor. Alhamdulillah cara ini membawa hasil.

Ilmu pengobatan ini diturunkan oleh kakek/nenek pada seorang anak/ cucu keturunannya yang tertentu saja. Jadi kepribadian seorang anak/cucu juga menjadi salah satu faktor pertimbangan seseorang diturunkan ilmu ini.

Pembawaan yang tenang dan siap menolong orang kapan saja tanpa mengeluh menjadi syarat utamanya. Dengan demikian pengabdian tanpa pamrih kepada sesama yang menjadi tujuannya.

Ilmu yang diturunkan bila tidak diamalkan akan memakan diri sang pemilik. Berbagi manfaat bagi sesama tanpa meminta imbalan yang menjadi filosofinya.

Semoga apa yang disampaikan pada tulisan ini membawa manfaat dan menambah wawasan kita akan khasanah budaya daerah di Indonesia.



KAPUNA NOBILI BAN/BUAYA BERKALUNG BAN

 
 
Apa yang ada di pikiran pembaca ketika melihat judul tulisan ini? Kenapa buaya harus memakai kalung? Kalung ban lagi. Ada ada saja. Akrobat kali'. 

Buaya berkalung ban sangat populer dalam tiga tahun belakangan ini. Sekitar di awal tahun 2018 buaya ini memulai aksi uniknya tersebut.

Sungai Palu membelah  kota Palu menjadi Palu Barat dan Palu Timur. Sungai ini sejak zaman dahulu memang sudah dihuni oleh buaya.

Konon menurut cerita orang tua, buaya yang hidup di sungai itu adalah kembaran manusia. Sehingga tidak menggangu meski ada orang di dalam sungai ketika buaya lewat.

Pada saat tertentu buaya tersebut sering muncul ke permukaan dan berjemur di tengah sungai yang ada tanahnya saat air surut pada musim kemarau.
 

Mereka sering jadi tontonan warga sekitar. Pemunculan nya mengundang masyarakat untuk datang memberikan makanan berupa anak ayam ataupun sejenisnya misalnya ayam peranggang atau ayam mudah.

Buaya ininya sangat besar dan panjang. Yang sering muncul adalah buaya kuning, hitam dan putih. 

Menurut kepercayaan masyarakat setempat khusus nya  yang tinggal di pinggiran sungai, bila buaya sering naik ke permukaan berarti mereka lapar dan minta makan.
 

Sepanjang kehidupan  belum pernah penulis mendengar ada orang di terkam buaya di dalam sungai. Tentunya kita juga mesti hati hati agar tidak mati konyol.

Belakangan muncul anak buaya yang lehernya terlilit oleh ban mobil. Sungguh kasihan. Sampai saat ini buaya tersebut sudah besar dengan kalung bannya.

Para pawang buaya sudah banyak yang didatangkan untuk membantu melepaskan ban dari leher nya, namun tidak pernah berhasil menangkap buaya malang itu.

Sebut saja Panji. Beliau datang ke Palu khusus untuk membantu buaya terbebas dari cekikan ban mobil yang merupakan sampah dalam sungai.

Bukan hanya Panji yang datang, pakar reptil berpengalaman dari Australia juga didatangkan. Matthew Nicholas Wright  dan Chris Wilson  datang dengan team dan peralatan lengkap termasuk krangkeng buaya yang dipasang di dalam  sungai.
 

Anehnya para penghuni sungai Palu menjauh dan jarang muncul di permukaan air. Seolah mereka tahu ada yang sedang memburunya.

Masyarakat sangat antusias berkumpul bagaikan pasar malam di dua sisi sungai yang berseberangan selama masa evakuasi buaya.
 
Penangkapan buaya dijadikan tontonan gratis. Bahkan badan jembatan pun jadi macet karena penuhnya pengunjung buaya berkalung ban yang telah menjauh entah ke dasar sungai.

Sesekali masyarakat melihat nya melintas . Tapi hanya dari kejauhan.
Mr Reptil dari Australia pulang dengan tangan hampa. Basarnas juga angkat tangan.

Seolah komunitas buaya sungai Palu sudah sepakat untuk mengurung diri dan jaga jarak bila ada orang baru datang memburu mereka.

Hingga saat ini pemunculan mereka di tengah sungai ketika berjemur selalu menyedot perhatian warga yang lewat di jembatan.

Ada yang menonton sampai puas, ada yang merekam untuk konsumsi medsos. Pokoknya bila buaya  lagi manggung, jalan jadi penuh dan macet terutama  di jembatan satu  dan empat kota Palu.

Amazing... buaya berkalung ban.

"DOYATA NTO KAILI '/ PEKARANGAN ORANG KAILI

 
 
Sebagian besar penduduk kota Palu dan sekitarnya menggunakan bahasa daerah Kaili sebagai bahasa asli (native language)

Mereka mendiami lembah Palu yang terdiri dari tiga belas kecamatan dalam wilayah kota madya Palu.
 
Kota Palu sebagai ibukota provinsi Sulawesi Tengah sesungguhnya sangat indah dan strategis dari sudut pandang destinasi wisata.
 
Frame three in one bisa jadi salah satu daya tariknya. Betapa tidak, view pantai, pegunungan, dan laut hadir secara bersamaan dalam sekali pandang. Amazing khususnya di malam hari.
 
 
 
Garis katulistiwa yang selalu bersama kami orang Palu tidak menjadi sesuatu yang ekstrim lagi. 

Segala aktivitas masih bisa dilakukan secara normal dalam kondisi suhu udara tingkat dewa.

Goncangan gempa, likuifaksi plus tsunami 2018 silam seakan membuka mata kami. Inilah kota Palu dengan segala keberadaanya.
 
Menurut riset kota Palu dilalui 'lempeng Palu Koro"  Itulah kondisi yang ada dimana masyarakat Palu harus terbiasa dengan segala resiko alam yang tidak bisa diprediksi secara sempurna. 

Bencana dahsyat  tanggal 28 September 2018 telah mengajarkan banyak hal pada kami akan kondisi geografis dan juga  pesan moral kehidupan yang sesungguhnya. 
 
Hidup adalah milikNYA. Manusia hanya lakon yang telah dibekali dengan skenario kehudupan itu sendiri. Cermin diri yang seutuhnya telah diperlihatkan lewat peringatan dahsyat tersebut.

 
Terlepas dari itu semua, tentu tidak ada salahnya bila irama, riak, gaung kehidupan sehari-hari yang selama ini berlaku dalam kehidupan masyarakat Kaili sehari hari  dipaparkan secara sederhana dalam bentuk tulisan, baik dalam bentuk buku maupun digital.
 
Kiranya anak cucu kita  nanti atau siapa saja yang butuh informasi meski sedikit akan terbantu dengan isi tulisan ini. 

Saya bukan Antropologist, saya hanyalah salah satu dari ribuan generasi tanah Kaili yang  baru  tersadar meski hampir di penghujung waktu.
 
Kota Palu bukanlah tergolong kota yang perubahannya sangat cepat bila dibandingkan dengan kota kota lainnya misalnya kota  kota di pulau Jawa.
 
Masih segar di ingatan saya sekitar dua puluh tahun yang lalu yakni pada akhir tahun 1998, ada keluarga yang datang setelah puluhan tahun baru berkunjung lagi ke Palu mengatakan bahwa semua bangunan yang dia tinggalkan kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu belum banyak berubah, masih  tetap di tempatnya.  Wah, tidak bakalan kesasar kalau begitu. 
 
Sebagai orang Palu, penulis sesungguhnya merasa nyaman dengan keadaan  seperti yang digambarkan di atas. 

Betapa tidak? Polusi lingkungan masih sangat kurang. Air yang mengalir di got yang berasal dari pematang sawah, masih bisa digunakan  penduduk  untuk mencuci.

Banjir karena got penuh dengan sampah tidak pernah terjadi. Sungai masih jernih dan dalam karena tidak ada penduduk yang membuang sampah di sana.

Polusi udara karena asap kendaraan hampir tidak ada. Kemacetan tidak ada sama sekali. Trotoar masih di hiasi dengan para pejalan kaki meski di Palu suhu udaranya rata rata 33 sampai  36 derajat Celcius setiap hari.

Akan tetapi  di sisi lain, hidup kan harus berubah, seiring perubahan zaman di era global yang terasa sangat cepat. Jika tidak menyesuaikan mungkin  kita akan terlindas oleh zaman.
 
Saat ini pembangunan infrastruktur di kota Palu semakin pesat. Kemacetan sudah mulai sering  terjadi terutama di lampu merah pada saat jam orang berangkat  kerja pagi hari dan pulang kerja di sore hari. 

Pertanda kota Palu sudah mengalami perubahan dan perkembangan. 

Sanggupkah masyarakat kota Palu mengatur langkah dan beradaptasi dengan semua itu? 

Mungkinkah terjadi pergeseran pergeseran nilai sebagai resiko dari perubahan dan tuntutan hidup yang semakin mendesak?
 
Kepemilikan tanah atau lahan di kota Palu pada zaman orang tua kami dahulu terutama tahun 60-an  masih sangat longgar.
 

Banyak lahan yang dibiarkan tanpa adanya pagar atau batas yang jelas. 

Terlebih lagi legalitas tanah berupa sertifikat, hanya sebagian kecil  masyarakat yang memilikinya.  (terutama mereka yang sudah lebih paham akan hukum kepemilikan tanah).
 
Mengapa masyarakat pada umumnya bersikap demikian? 

Karena mereka beranggapan  bahwa tanah itu adalah milik pribadi yang diturunkan langsung dari orang tua mereka dahulu. Siapa yang berani mengambil? 

Kalaupun ada anggota keluarga yang butuh untuk berkebun atau menempati, silahkan. Toh hanya  antara kita juga sesama saudara.
 
Tanah diwakafkan untuk kepentingan desa tanpa disertai surat atau tanda terima itu sah sah saja kala itu. . 

Sistem kepercayaan dan pegang janji sangat dijunjung tinggi. Trushness ternyata berjalan maksimal di zaman peradaban yang  masih belum berkembang pesat. Suatu tanda  bahwa nilai karakter sangat dijunjung tinggi kala itu.
 
Bagaimana potret kehidupan saat ini? Adakah orang yang rela memberikan dan menerima tanah tanpa tanda terima?  

Mungkin tidak ada, karena semuanya sudah  diatur oleh hukum yang berlaku agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan di masa mendatang.
 
Terdapat  banyak contoh kasus perebutan tanah atau lahan yang tidak memiliki tanda penyerahan resmi atau tertulis terjadi di masyarakat tanah Kaili.
 

Lahan luas yang sudah diserahkan oleh "totua" (orang tua/kakek/buyut) untuk kepentingan umum di desa, diperkarakan oleh anak ccunya. Mereka berusaha mendapatkan kembali tanah itu dan memenangkan perkaranya.
 
Sebuah lembaga pendidikan harus ditutup untuk beberapa waktu, karena pemilik tanah mengclaim tanah tersebut adalah milik mereka.  

Pertengkaran hebat antar saudara satu turunan terjadi karena mereka menempati sebuah lahan hanya atas dasar 'permisi atau izin lisan' dari kakek/nenek buyutnya.

Kalau ingin tetap tinggal, maka ganti rugi harga lahan harus ada. Bila tidak, resikonya berarti meninggalkan tempat meski bangunan  sudah berdiri kokoh selama puluhan tahun di tempat itu.
 
Sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu terjadi bila buktti penyerahan resmi ada.

Itulah contoh pergeseran nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya yang tidak bisa dihindari.
 
Namun di sudut hati yang dalam muncul persaan sedih atau miris bila mengingat ketulusan hati para pendahulu . 

Semuanya  punah begitu saja karena derasnya tuntutan hidup, yang memaksa anak cucunya harus mengingkari apa yang telah mereka berikan untuk kepentingan orang banyak.
 
Itulah beberapa contoh  lemahnya hukum  pada masa dahulu yang hanya berdasarkan rasa kepercayaan atau lisan,  Sehingga sering memunculkan masalah baru yang sebenarnya tidak perlu ada.
 
Apa yang diuraikan dalam tulisan ini merupakan fakta yang ada dalam masyarakat khususnya  suku Kaili. 

Mungkin pada masyarakat adat di tempat lain, hal yang serupa juga terjadi. Kiranya kita bisa mengambil hikmah dari semua ini. 

Siapa pun kita, darimana pun kita berasal, kebijakan dalam tautan persaudaraan itulah yang harus dijunjung. 

Bukankah kita semua adalah pewaris rangkaian upaya yang telah dirintis oleh para pendahulu kita? 

Mereka telah berjuang untuk anak cucunya, yakni, kita semua . Semoga nilai persaudaraan di tanah Kaili tidak pernah pupus oleh waktu.

Kiranya kebersamaan dalam bingkai rasa saling menyayangi satu dengan yang lain akan tetap terpelihara hingga di ujung waktu.

Jangan lupa pesan orang tua:
Masintuvu kita maroso morambanga kita marisi "Berdiri sejajar kita akan kuat berdampingan kita akan kokoh".
 
Norambanga Nosabatutu  "Hidup berdampingan sebagai satu turunan"

 Aamiin ya Rabb 🙏

Wasalam

Penulis

Kamis, 10 Desember 2020

MENUNGGU/NOPEA

 MENUNGGU/NOPEA

 


Pernah mengalami yang namanya menunggu? Bagaimana rasanya?

Wah, menunggu adalah pekerjaan yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit menjalaninya.

Seperti hari ini aku terpaksa harus antri di teller sebuah bank pemerintah karena mesin setor tunai ATM  lagi error.

Seusai tugas menjelang Jum'at, aku sekalian mampir di sebuah bank di daerah pertokoan di kotaku.

Teriknya panas di Jumat siang itu sepertinya tidak kuperdulikan lagi. Yang penting uang ini segera terkirim pada pemiliknya.

Ada sebuah amanah yang harus kuselesaikan pada seseorang. Beliau menelpon plus menghubungi via chat w.a . Itu membuat diriku merasa tidak nyaman. Beginilah kira kira kondisi perasaan seseorang yang punya janji kepada orang lain.

Tiba di bagian pengambilan nomor antrian di depan pintu, seorang petugas keamanan menyodorkan term gun ke arahku.  Akan tetapi aku lebih suka menyodorkan pergelangan tangan untuk di tes suhu. Kata orang lebih baik term gun di tangan dari pada kepala. Yah, sebagai masyarakat awam, aku mah menurut saja. Yang penting di tangan bukan kepala.

Suhu udara dalam ruang tunggu terasa hingga tulang belakangku. Aku merasa agak dingin duduk lama dalam ruangan ber A.C. Apalagi dalam kondisi pandemi covid seperti ini, perasaan was was akan kondisi kesehatan sering hadir.

Guna menghangatkan badan yang sedari tadi  duduk manis di kursi antran bank, aku berdiri dan melangkah keluar. Istilahnya cari angin.
 

Segera badan kugerak gerakkan biar tulang dan otot kembali nyaman. Aku pun duduk di teras di tepian tangga bank tersebut.  Angin berhembus sejuk di tengah cuaca yang cukup terik. Aku bernapas lega sambil membuka masker sejenak.

 Enak di sini ketimbang di dalam, dimana terjadi kumpulan orang yang lumayan banyak dalam satu ruangan. Sedap sedap ngeri  rasanya.

Aku mengintip dari balik pintu kaca depan Bank . Kulihat board berisi informasi nomor antrian yang sedang dilayani oleh petugas. Wah, masih 30 nomor ke depan baru giliran ku. Aku memutuskan untuk menunggu di luar saja. Ketika nomor antrian ku dekat, baru aku masuk.

Kuambil android dari tas. Buka blogger dan mulai ketak ketik key pad. Segera luapkan rasa dalam kalimat. Lahir beberapa paragraf. 

Manfaat menunggu hari ini, lahir seuntai coretan buah pikir dalam kegamangan waktu yang tersita.

Tanpa terasa sudah hampir setengah jam aku duduk di luar. Aku beranjak ke depan pintu masuk bank. Aku melihat di papan pengumuman nomor antrian sudah hampir setengah berjalan.

Sebaiknya aku menunggu di dalam. Kucari tempat Duduk  yang agak jauh dari box a.c yang terdapat dalam ruangan. Aku pun duduk sambil melanjutkan ketikan paragraf yang belum sempurna dalam frame blogger.

Palu, 11 Desember 2020
Bank BNI area Transmart

Menunggu memang menjemukan. Isilah waktu dengan hal yang bermanfaat. 

Sahabat Blogger Lagerunal



Rabu, 09 Desember 2020

TANAHNGGU KAILI


             Tanahnggu Kaili    

Judul yang tertulis di atas berasal dari bahasa Kaili dialek Tara (salah satu dialek dalam bahasa Kaili). Tanahnggu Kaili berarti kaili tanahku. dalam artian tempatku dilahirkan, dibesarkan dan mencari kehidupan. 

Dari sisi mencari kehidupan sebenarmya tidak berlaku mutlak atau harus. Banyak orang kaili yang merantau ke daerah lain dan mencari penghidupan di sana. 

Tapi, sering terjadi mereka yang sudah menyatu dengan kehidupan barunya di kota lain  datang ke Palu hanya untuk ziarah atau mengunjungi keluarga dan kuliner alias cuci leher dengan uta kelo dan duo sole serta palumara.

Suku Kaili bila dilihat dari sejarah keberadaannya sebenarnya berasal dari Sulawesi Selatan. Sebab lembah Palu itu pada awalnya adalah lautan tak bertepi. 

Penduduknya tinggal di pegunungan yang mengelilingi lembah. Seiring dengan proses alam, maka lembah Palu sebagian besar sudah menjadi daratan dan didiami oleh penduduk.

Hal ini bisa dibenarkan dengan adanya legenda perahu saweri gading yang terdampar di tepi pantai. Namun bila dilihat kembali tempat tersebut, ternyata berpuluh  puluh kilometer jaraknya dari tepi pantai kota Palu saat ini.

Dalam kesehariannya masyarakat Palu asli, hidup dari bertani di sawah atau bercocok tanam di kebun. Bagi yang tinggal di pesisir pantai maka pencahariannya adalah sebagai nelayan. Sebagian yang lain menjadi tukang, pedagang dan pegawai.

Tatanan kehudupan masyarakatnya masih mengutamakan persaudaraan yang sangat erat. Bila mengadakan sebuah pesta, maka semua saudara dekat ataupun jauh pasti diundang. Mereka berkumpul di rumah tempat hajatan jauh hari sebelum acara diadakan.

Kehidupan bersama dan gotong royong manjadi sebuah tradisi yang tidak bisa hilang. Saling membantu dan memenuhi keperluan sudah menjadi tata aturan yang berlaku turun temurun. 

 

Prinsip mereka adalah hari ini kita punya maka kita harus membantu yang lain. Esok lusa kita butuh maka orang lain pun akan membantu kita.

Itulah sebabnya pada zaman dahulu banyak orang Kaili yang menikah dengan saudara sendiri atau mereka yang orang tuanya masih memiliki ikatan persaudaraan atau kekerabatan.

 

Para pendahulu orang Kaili sangat takut bila mereka akan mendapatkan anak menantu yang bibit bobot dan bebetnya tidak diketahui. 

Pewarisan harta mungkin juga menjadi salah satu pertimbangan bagi para orang tua dahulu untuk mengawinkan anaknya dalam satu turunan atau ikatan kekeluargaan.

Seiring dengan perkembangan waktu, orang Kaili sudah banyak berubah, terutama  dalam hal mindset atau cara berpikir. 

Budaya asimilasi perlahan mulai diterima. Seorang anak sudah boleh memilih pasangan hidupnya sendiri tanpa harus mengikuti kemauan orang tua. Yang menjalani hidup toh anak itu sendiri. Merekalah yang akan membawa biduk kehidupannya, orang tua tinggal merestui dan mendoakan.

Dalam hal interaksi pergaulan kemasyarakatan, orang Kaili tergolong kaum yang lebih fleksibel ketika bertemu dengan sesuatu yang baru. apalagi dalam hal penggunaan bahasa Indonesia. 

Pada umumnya orang Kaili baik yang tinggal  di kota atau bahkan yang tinggal jauh di atas pegunungan mampu berbahasa Indonesia ketika bertemu dengan orang baru. 

Meskipun bahasa Indonesianya masih terpengaruh dengan dialek bahasa daerah, yang jelas mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Bila dibandingkan dengan daerah daerah di pulaiu Jawa dimana masyarakatnya menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pergaulan. 

Maka di tanah Kaili masyarakatnya seperti yang telah disebut di atas sangat fleksibel dalam beradaptasi budaya khususnya bahasa. 

Jadi jangan takut kalau datang ke Palu 'kesasar' karena tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh penduduknya. Kata orang sana take it easy!.

Dengan kondisi yang sangat acceptable seperti ini, maka di kota Palu digunakan bahasa pergaulan yang bermacam macam. Yang paling dominan adalah "logat Manado". Setelah itu baru logat Kaili sendiri, Bugis, Jawa dan yang lainnya.

Namun demikian para pengguna logat minoritas ini akan selalu menyesuaikan dengan logat Manado yang lebih dominan. 

Sehingga di Palu sering kedengaran lucu ada orang Jawa yang sangat medok berusaha mengikuti logat Manado yang kalau ditirukan pengucapannya menimbulkan makna lain. Ini sering dijadikan guyonan di masyarakat.

Itulah sekilas gambaran masyarakat Palu "orang Kaili" dengan segala keberadaannya.

Yah, saya sebagai orang asli Palu alias orang Kaili  melihat bahwa masyarakat Palu adalah masyarakat yang heterogen. Mereka mampu menerima perbedaan dan pembaharuan dalam konteks kemajemukan.

Kiranya apa yang penulis coba paparkan dalam kesempatan ini bisa memberi inspirasi akan adanya dinamika dalam suatu tatanan budaya masyarakat.

Perubahan yang sifatnya lebih positif dan mendorong tumbuh kembangnya budaya itu sendiri tentunya bisa diterima. 

Sebaliknya perubahan yang sifatnya meruntuhkan pesan pesan bermakna dalam suatu budaya, akan dipertimbangkan secara matang demi kelestarian budaya nenek moyang yang sesungguhnya adalah akar budaya bangsa.

Medio awal Desember 2020.

Wasalam

Penulis