Sabtu, 30 Januari 2021

KISAH TIGA BOCIL

 Mengejar Layang Layang (3)

     Reza, Fary, dan Rival berjalan ke arah rumah Rival dekat kolam pemancingan tanggul Nosarara milik dokter Sari Mereka berjalan letih setelah seharian bermain dalam aktivitas sebagai anak anak kampung yang memang jago bermain.

     "Minum di rumahku kita dulu" Ajak Rival. sambil jalan menuju pintu dapur yang terbuka lebar. "Eh. darimana kamu tiga ini? Dari pagi tidak ada pulang makan" Bunda Mut ibunya Rival menyambut mereka dengan pertanyaan. "Dari bungi kami tadi bantu nenek Sadiyah" Jawab Rival singkat sambil menuangkan air di gelas untuk kedua temannya.

     "Makan apa kamu tadi"? Lanjut bunda Mut. "Makan pisang goreng di rumah Tante Mina" Sahut Fary meyakinkan. "Pulang mandi saja dulu, malam kenari lagi babikin mie kuah kita" Kata bunda Mut pada Reza dan Fary. "Iye, pulang dulu kami"

     Sesampainya di rumah masing masing, mereka mandi dan berganti pakaian karena waktu Magrib tidak lama lagi. Fary mengenakan kemeja lengan panjang dan sarung yang disampirkan di leher. Bertemu dengan Reza dan Rival di masjid Nurul Yaqin.

     Sesampainya di masjid, berwudhu dan merapikan sarung sholat. Terdengar azan mulai berkumandang. Para jamaah bergegas memasuki masjid. Reza dan kedua sahabatnya sudah siap dalam satu saf tepat di belakang imam. Mereka mengambil posisi agak ke samping. Tempat di tengah diperuntukkan untuk para totua/orang tua.

KISAHTIGABOCIL

           MENGEJARLAYANG LAYANG

 Mereka bertiga berlari menuju jalan ke arah bungi dimana layangan putus tadi berada. "He motor Reza" Teriak Fary menginginkan Reza yang berlari dan menyeberang jalan tanpa melihat kiri kanan. " Maaf om maaf" Kata Reza pada pengendara motor yang menatapnya tajam. "Kalau kamu ditabrak tadi, siapa yang salah"? Omel bapak itu sambil jalan.

 " Itu Reza" Teriak Rival sambil menunjuk pada sebuah layang layang yang tersangkut di ranting pohon kayu Jawa. " Ambil kayu itu bawa kemari" Perintah Reza pada Rival yang matanya tetap awas pada layangan putus itu.

  "Ini Fary kau jolok saja layang layang itu apa kau tinggi, pasti sampe kalau kau yang basoka(baca: jolok) " Kata Rival pada Fary sambil menyerahkan sebatang penjolok dari ranting kayu. Fary pun berusaha menjulurkan kayu panjang ke samping pohon agar mudah baginya menjatuhkan layangan itu. "Korek benang sisa itu biar talepas Fary...namali Iko (lambat kau)" Teriak Reza dengan tidak sabar. "Bantu tarik itu Rival, jangan hanya menonton"  Reza menyuruh Rival dengan panik. "Ok...ok bos sip"  Rival mengancungkan jempolnya.

  Tarik kiri kanan selama beberapa saat. Akhirnya evakuasi layangan putus berhasil. Weleh... weleh sebuah layangan putus yang harganya tak seberapa ternyata menjadi tema perjuangan tiga sahabat di sore itu.

  Mereka bertiga kemudian berjalan dengan celotehan yang tidak pernah putus ke arah lapangan bola di tepi jalan raya di tengah kampung Nunu. Sebenarnya berapa sih nilai atau harga sebuah layangan putus bila dibandingkan dengan upaya keras untuk mendapatkannya. Tak jarang anak-anak ini harus berebut dengan anak-anak yang lain yang punya misi yang sama yakni mendapatkan layangan putus. Entahlah, ada nilai seni yang seperti apa dalam mengejar layangan putus. Yang jelas bila musim layang-layang tiba, maka tim pemburu layangan 'embang' ini juga beraksi.

   "Badapat layang layang dimana kamu"? Tanya Anto dari arah lapangan futsal. Memang posisi lapangan bola dan lapangan futsal bersebelahan dan pas di depan rumah Anto."Di jalan ke bungi kitorang dapat"  Sahut mereka bertiga. "Apa tadi kitorang juga ba kejar layang layang, tapi hilang. Mungkin sudah itu tadi"   Sahut Anto sedikit kecewa. Tiga sahabat hanya tersenyum tipis mendengar kalimat nya Anto. "Kitorang (baca: kami) yang dapat bagaimana sudah"? Bisik Reza pada Fary dan Rival. "Beeh...biar saja"  Sahut mereka berdua hampir bersamaan diiringi senyum kemenangan.

Bersambung

Salam Literasi

Astuti, S.Pd,M.Pd.

SMPN 14 Palu Sulawesi Tengah.






Jumat, 29 Januari 2021

KISAH TIGA BOCIL

 MENGEJAR LAYANG - LAYANG

        Selama perjalanan pulang dari bungi  (baca:kebun;bahasa Kaili), ketiga bocah ini selalu bersenda gurau. Ada ada saja yang mereka jadikan bahan untuk tertawa. Mulai dari diri mereka sendiri yang entah bagaimana modelnya menjinjing sepasang kelapa yang lumayan berat bagi anak seusia mereka. Nenek Sadiyah dan om Mistar pun tak luput dari sorotan tiga spionase kampung ini.

        Ketika mendekati jalan aspal menuju pemukiman mendadak Reza berteriak lepas "he layang - layang putus" sambil menunjuk ke atas. Semua terkejut dan berhenti mendengar teriakan Reza yang cukup keras. Spontan nenek Sadiyah balas berteriak tak kalak kerasnya "weh, masalisamo nadea gau". Artinya ayo cepat tidak usah macam - macam. Fary dan Rival tersenyum melihat nenek Sadiyah memarahi Reza.

        "Kita taruh dulu ini kelapa bari kemari lagi kita nha"? Reza berbicara pelan pada kedua temannya yang juga sudah setengah mati membawa kelapa. "Iyo, sebantar jangan baribut, didengar lagi nanti kita" Jawab Fary hati - hati. "Ayo kemon bro" Reza memberi semangat sambil berjalan cepat di depan. Fary dan Rival hanya mengikuti dari belakang. Ingin rasanya cepat sampai di rumah Mina pikir mereka tentunya.

        Tidak berselang lama iring iringan bungi telah sampai dihalaman depan rumah Mina. Beliau adalah kakak sepupu Reza dan juga ponakan kandung nenek Sadiyah. "Mina ditaruh dimana ini kelapa"? Teriak Reza dari depan pintu dapur. "Taruh situ saja tidak apa - apa" Sahut Mina dari dapur. Tercium aroma pisang goreng. "Sini kamu orang Reza, Fary, dan Rival" Mina memanggil tiga bocah itu untuk masuk ke dapur.

        Tanpa menunggu panggilan kedua, ketiga sahabat ini sudah berada di dapur dan langsung mencolek pisang goreng yang masih panas itu. "Duduk saja ambil kursi itu" perintah Mina sambil menyodorkan sepiring pisang goreng panas. Ehm... narasa mpu (baca: enak sekali)

        "Mbana ka yaku Mina"?  (baca:mana untuk saya?) Nenek Sadiyah merasa cemburu dengan ketiga bocah yang sudah larut dalam dansa lidah karena pisang goreng masih panas.. "Hii ranga Sadiyah anu ka komiu (baca: ini bagiamu ada) Jawab Mina kalem dan langsung memberikan sepiring kecil pisang goreng untuk Bibinya.

    "Habis ini kamu tiga mandi semua apa navau soa/bau badan" Tandas nenek Sadiyah pada tiga  sahabat yang lagi asyik dengan pisang goreng dan teh hangat hidangan tante Mina. Mereka bertiga saling bertatapan penuh arti. Apa gerangan yang ada di pikiran mereka sehingga mereka tidak menjawab perintah nenek Sadiyah.

        Setelah gelas teh dan piring pisang goreng bersih tak berbekas, ketiga bocah itu berdiridan langsung keluar. Mereka berjalan beriringan. Terlihat mereka ingin segera berlalu dari depan nenek Sadiyah.

        "Mari cepat sudah ba kejar layang - layang tadi kita" Reza memberi isyarat kepada dua temannya ini. Tanpa menunggu jawaban lagi, segera mereka kabur tanpa pamit lagi. Dasar anak - anak tengil.

POTRET DI PELUPUK MATA

 PENGINGAT DIRI

        Pada bagian awal tulisan ini dipaparkan bahwa hidup ini hanya sementara. Oleh karena itu harus dihiasi dengan berbagai kebaikan atau manfaat bagi diri, orang lain, dan alam sekitar. Umur kita setiap saat bergerak. Pergerakan mundur usia seringkali membuat mata batin  ini banyak merenung. Mereka yang atas izin NYA mampu melihat dan merasa dengan rasa yang sesungguhnya pasti akan mengalami fase ini. Insha Allah.

        Tulisan ini sesungguhnya ditujukan sebagai pengingat diri sendiri sebelum mengingatkan orang lain. Apa yang nantinya hendak disampaikan semata mata hasil refleksi diri yang tentu saja berbalut banyak kekurangan. Penulis bukanlah seseorang yang terlahir sempurna tanpa cela. Lakon kehidupan yang menjadi takdir banyak mengajarkan perihal yang sifatnya 'personal'. Dalam artian tidak semua orang mengalami dan merasakan pengalaman faktual dan spritual yang telah dialami oleh penulis.

        Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam tidak pernah menciptakan dan mengatur jalannya suatu lakon kehidupan tanpa tujuan khusus bagi yang bersangkutan. Semua yang sudah diatur oleh NYA adalah bentuk sifat kasihsayang murni tanpa batas terhadap makhluk ciptaannya. Manusia yang dijadikan sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi  diberikan tanggung jawab mulia yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Subhanallah.

        Panduan hidup bagi seorang muslim sebagaimana kita ketahui dari buku buku agama dan ceramah para ustadz dan guru guru hebat adalah kitab suci Al Qur'an dan Hadist. Sejauh yang penulis pelajari selama ini bahwa kandungan dua sumber kitab agung dan mulia itu adalah tutorial atau tata cara hidup dan berkehidupan yang sangat lengkap. 

        Allah tidak pernah lelah memberikan rasa sayangnya pada setiap hambaNYA. Bila kita lalai pasti ada teguran lambat atau cepat. Proses pembelajaran akan terus ada selama napas masih melekat di badan. Benarlah jjika dikatakan bahwa hidup adalah proses. Dengan demikian tidak ada yang instant atau sim salabim. Jika memang ada yang terjadi tanpa proses  panjang sebagaimana umumnya maka sesungguhnya itu adalah anugerah berupa keajaiban atau "miracle'.

        Allah mengajar manusia bukan hanya melalui kitab suci dan hadist Nabi Muhammad SAW. Kejadian atau peristiwa yang nampak dalam kehidupan kita sehari - hari juga menjadi sumber pembelajaran bagi kaum yang berfikir. Mereka yang hatinya telah dibuka oleh yang Kuasa dengan mudah membaca tanda tanda ataupun peringatan yang datang dimana dan kapan saja.

        Kebaikan maupun keburukan semuanya adalah sumber pembelajaran. Sebuah kebaikan mungkin secara bijak bukan hanya mengharapkan pujian atau decakan kagum dan jempol. Lebih dari itu halyang baik seharusnya bisa menginspirasi kita untuk berbuat hal yang serupameski dalam ruang yang berbeda.

        Sebaliknya sebuak kesalahan atau kekeliruan orang lain bukan untuk dijadikan cemohan melainkan dijadikan pelajaran bagi yang lain agar tidak berbuat hal yang sama. Sebagai seorang Muslim sejati do'a untuk kebaikanbagi mereka yang telah dianggap bersalah tetap kita panjatkan. Bukankah sesungguhnya manusia itu adalah satu sama dan selalu terhubung? (Konsep ilmu Magnet Rezeki)

        Manusia sejatinya adalah  satu badan. Anggota badan yang satu sakit, maka anggota badan yang lain akan turut merasakannya. Cerita atau gambaran kehidupan yang nantinya akan tertuang dalam tulisan ini kiranya dimaksudkan untuk mencari  hikmah yang ada di dalamnya. Semoga bermanfaat.

Bersambung